
Desa Wisata Ngerangan, yang terletak di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, dikenal luas sebagai kampung asal mula angkringan, ikon kuliner khas Jawa Tengah yang kini menjamur di berbagai penjuru Indonesia.
Di desa ini, wisatawan dapat menemukan monumen dan museum angkringan yang menceritakan sejarah awal munculnya warung sederhana yang akrab dengan suasana malam dan aroma wedang jahe ini. Suasana tradisional desa dan keramahan warganya menjadikan Ngerangan tempat ideal untuk memahami filosofi “angkringan” yang sarat makna kebersamaan dan kesederhanaan.
Edukasi Menjadi Juragan Angkringan
Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ngerangan, desa ini menawarkan paket wisata edukasi angkringan yang mengajarkan pengunjung cara menjadi juragan angkringan sejati — lengkap dengan resep khas, cara meracik teh dan jahe, hingga strategi bisnis agar usaha bisa bertahan lama.
Ketua Pokdarwis Ngerangan, Suwarna, menjelaskan bahwa sekitar 70 persen warga laki-laki di desanya berprofesi sebagai pedagang angkringan. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia — mulai dari Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.
“Edukasi ini bagian dari pengembangan branding desa wisata. Ilmunya bisa menembus seluruh Nusantara, sehingga semangat Ngerangan benar-benar membumi,” ujar Suwarna saat ditemui di ajang Festival Desa Wisata.
Pilihan Paket Wisata dan Pelatihan
Pokdarwis Ngerangan menawarkan dua pilihan utama bagi calon pebisnis angkringan:
- Paket Sekolah Angkringan (Dasar) – Rp 1 juta
- Pelatihan selama 4 hari, mencakup teknik berjualan dan racikan khas.
- Sudah termasuk akomodasi dan makan, serta mendapatkan sertifikat pelatihan.
- Paket Wisata Edukasi Lengkap – Rp 4 juta
- Pelatihan selama 4–5 hari, termasuk penginapan, makan, dan perlengkapan lengkap berupa gerobak angkringan siap pakai.
- Peserta juga mendapat pembekalan strategi pemasaran, pemilihan lokasi usaha, hingga trik mempertahankan pelanggan.
Selain itu, terdapat kelas singkat meracik teh dan jahe seharga Rp 25 ribu per orang (minimal 10 peserta) yang cocok bagi wisatawan umum.
Filosofi dan Ciri Khas Angkringan Ngerangan
Dalam pelatihan, peserta akan diperkenalkan pada tradisi tiga ceret — simbol kehangatan dalam setiap gerobak angkringan. Ketiga ceret ini berisi air mendidih, wedang jahe, dan racikan teh yang selalu siap disajikan kepada pelanggan.
Selain pelatihan kuliner, peserta juga belajar tentang model kemitraan tradisional antara juragan dan “prembe” (mitra penjual).
- Juragan menyediakan modal dan bahan jualan.
- Prembe bertugas berjualan dan memperoleh keuntungan dari selisih harga jual.
Sistem ini telah menjadi bagian dari budaya ekonomi rakyat yang saling menguntungkan dan memperkuat solidaritas antarwarga.
Dampak dan Harapan ke Depan
Hingga kini, sudah ada beberapa peserta yang mengikuti program edukasi angkringan, bahkan salah satunya membuka usaha di daerah Piyungan, Yogyakarta. Mereka tetap mendapatkan pendampingan jarak jauh dari tim Pokdarwis Ngerangan.
Melalui program ini, Desa Ngerangan berharap tidak hanya meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga menyebarkan semangat kewirausahaan berbasis budaya lokal ke masyarakat luas — sejalan dengan visi desa menuju “Desa Wisata Berkembang Menuju Mandiri.”
Sekilas tentang Angkringan
Angkringan merupakan warung sederhana yang biasanya buka saat sore hingga larut malam. Dikenal dengan sajian nasi kucing, sate-satean, gorengan, serta aneka wedang panas, angkringan menjadi tempat berkumpul lintas kalangan — dari mahasiswa, pekerja, hingga pejabat.
Kata angkringan berasal dari bahasa Jawa “angkring” yang berarti duduk santai di tempat tinggi kecil, melambangkan kesederhanaan dan keakraban. Di sinilah nilai-nilai sosial dan kebersamaan tumbuh, menjadikan angkringan bukan sekadar tempat makan, tapi juga ruang interaksi budaya masyarakat Jawa.
